Tampilkan postingan dengan label Budaya Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Nusantara. Tampilkan semua postingan
Home » Posts filed under Budaya Nusantara
Bambu Gila, Permainan Tradisional Masyarakat Ambon
Minggu, 16 Oktober 2016
Indoneisa Wow Banget - Masyarakat Maluku mengenal suatu kesenian tradisi unik yang erat hubungannya dengan nuansa mistis bernama bambu gila. Permainan bambu gila yang memiliki nama asli Baramasewel konon sudah ada sebelum tersebarnya agama Islam dan Kristen di tanah Maluku. Cara memainkan bambu gila sangat sederhana, para pemain hanya memeluk dan menahan laju bambu yang bergerak melonjak sesuai kemauan sang pawang.
Sebelum permainan bambu gila dimulai, sang pawang bertugas membakar kemenyan yang dibawanya menggunakan wadah dari tempurung kelapa. Asap dari pembakaran menyan kemudian “dimasukkan” ke dalam bilah bambu. Proses ini menjadi penting dalam permainan tradisional bambu gila, karena proses ini merupakan upaya untuk mengundang sesuatu yang gaib untuk masuk dan menggerakan bambu.
Ketika pawang sudah berhasil memasukan sesuatu yang gaib ke dalam bilah bambu, maka bambu dengan sendirinya akan bergerak. Para pemain harus memeluk dan menahan laju bambu di bawah kuasa sang pawang. Sepanjang permainan, sang pawang terus mengendalikan bambu dengan meneriakan mantra-mantra, “hei baramasuwel!” Bambu tersebut tidak akan berhenti bergerak sampai sang pawang memerintahkannya untuk berhenti.
Dalam masyarakat Maluku yang masih tradisional, aura mistis dalam permainan bambu gila akan terasa sangat kental. Pasalnya, orang-orang yang boleh memainkan bambu gila bukanlah orang sembarangan, melainkan mereka yang sudah terpilih. Para pemain diharuskan bertelanjang dada mengenakan atribut serba merah, termasuk pada celana dan ikat kepala. Permainan berlangsung dengan iringan musik, semakin cepat musik yang mengiringi, semakin liar dan cepat gerakan pada bambu. Umumnya permainan tradisional ini dimainkan oleh tujuh orang, atau bisa lebih tergantung pada panjangnya bambu yang digunakan.
Bambu yang dipilih dalam permainan ini juga tidak sembarangan. Bambu diambil dari hutan dengan melalui ritual khusus. Bambu yang dipilih biasanya bambu berdiameter 8-10 cm, dan dengan panjang mencapai 3 meter atau lebih. Bambu yang sudah dipilih kemudian diikatkan kain pada kedua ujungnya, dan diperlakukan secara khusus layaknya manusia. Permainan bambu gila merupakan salah satu kekayaan tradisi yang dimiliki nusantara, salah satu permainan rakyat yang bersumber dari kebudayaan Maluku yang adiluhung
Label:
Budaya Nusantara,
kesenian tradisional,
Maluku
Ritual Bakar Mayat di Bali - Ngaben
Indonesia Wow Banget - Ngaben merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah di Bali, Indonesia. Upacara adat Ngaben merupakan sebuah ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang. Dalam upacara ini, jenazah diletakkan dengan posisi seperti orang tidur. Keluarga yang ditinggalkan pun akan beranggapan bahwa orang yang meninggal tersebut sedang tertidur. Dalam upacara ini, tidak ada air mata karena mereka menganggap bahwa jenazah hanya tidak ada untuk sementara waktu dan menjalani reinkarnasi atau akan menemukan peristirahatan terakhir di Moksha yaitu suatu keadaan dimana jiwa telah bebas dari reinkarnasi dan roda kematian. Upacara ngaben ini juga menjadi simbol untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal.
Dalam ajaran agama Hindu, jasad manusia terdiri dari badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Badan kasar dibentuk oleh lima unsur yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Kelima unsur ini terddiri dari pertiwi (tanah), teja (api), apah (air), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Lima unsur ini menyatu membentuk fisik dan kemudian digerakkan oleh roh. Jika seseorang meninggal, yang mati sebenarnya hanya jasad kasarnya saja sedangkan rohnya tidak. Oleh karena itu, untuk menyucikan roh tersebut, perlu dilakukan upacara Ngaben untuk memisahkan roh dengan jasad kasarnya.
Tentang asal usul kata Ngaben sendiri ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata beya yang berarti bekal. Ada yang berpendapat dari kata ngabu yang berarti menjadi abu. Selain itu, ada pula yang mengatakan bahwa Ngaben berasal dari kata Ngapen yakni penyucian dengan api. Dalam kepercayaan Hindu, dewa Brahwa atau dwa pencipta dikenal sebagai dewa api. Oleh karena itu, upacara ini juga bisa dianggap sebagai upaya untuk membakar kotoran yang berupa jasad kasar yang masih melekat pada roh dan mengembalikan roh pada Sang Pencipta.
Bagi masyrakat di Bali, Ngaben adalah momen bahagia karena dengan melaksanakan upacara ini, orang tua atau anak-anak telah melaksanakan kewajiban sebagai anggota keluarga. Oleh sebab itu, upacara ini selalu disambut dengan suka cita tanpa isak tangis. Mereka percaya bahwa isak tangis justru hanya menghambat perjalanan roh mencapai nirwana.Hari yang sesuai untuk melakukan upacara Ngaben biasanya didiskusikan dengan para tetua atau orang uang paham. Tubuh jenasah akan diletakkan di dalam sebuah peti. Peti ini diletakkan di dalam sebuah sarcophagus yang berbentuk lembu atau diletakkan di sebuah wadah berbentuk vihara. Wadah ini terbuat darI kertas dan kayu. Bentuk vihara atau lembu ini dibawa menuju ke tempat kremasi melalui suatu prosesi. Prosesi tersebut tidak berjalan pada satu jalan lurus karena bertujuan untuk menjauhkan roh jahat dari jenasah.
Puncak Upacara adat Ngaben adalah prosesi pembakaran keseluruhan struktur yakni Lembu atau vihara tadi berserta dengan jenasah. Prosesi Ngaben biasanya memerlukan waktu yang cukup lama. Bagi jenasah yang masih memiliki kasta tinggi, ritual ini bisa dilakukan selama 3 hari. Namun, untuk keluarga yang kastanya rendah, jenasah harus dikubur terlebih dahulu baru kemudian dilakukan Ngaben.
Upacara Ngaben di Bali biasanya dilakukan secara besar-besaran seperti sebuah pesta dan memakan biaya yang banyak. Oleh sebab itu, tidak sedikit orang yang melakukan upacara Ngaben dalam selang waktu yang lama setelah kematian. Saat ini, masyarakat Hindu di Bali banyak yang melakukan upacara Ngaben secara massal untuk mengemat biaya. Jadi, jasad orang yang sudah meninggal dimakamkan untuk sementara waktu sambil menunggu biayanya mencukupi. Namun, bagi keluarga yang mampu, Upacara adat Ngaben bisa dilakukan secepatnya.
Label:
Bali,
Budaya Nusantara
Kain Poleng Identitas Bali
Indonesia Wow Banget - Bali punya banyak "hiasan" khas yang senantiasa menjadikan wajah Bali punya gaya tersendiri. Salah satu yang pasti anda jumpai saat menginjakkan kaki di tanah dewata ini adalah kain motif kotak-kotak berwarna hitam putih. "Kain Poleng" begitulah nama kain yang bercorak mirip papan catur itu.
Penggunaan Kain Poleng
Kain Poleng sudah menjadi identitas Bali, kemana mata memandang disana selalu ada kain Poleng. Penggunaannya tidak hanya untuk benda dan acara yang bersifat sakral tapi juga profan atau non-sakral.
Benda-benda adat yang dipakaikan kain Poleng seperti tedung (payung), umbul-umbul, palinggih (tugu pemujaan), patung, dan kulkul (kentongan sebagai alat komunikasi). Warung, kafe, dan hotel di Bali juga tidak ketinggalan mendekor perabotnya seperti meja dan bantal dengan kain poleng. Bahkan tiang-tiang dan pohon-pohon di Bali pun bersarung kain Poleng.
Dalam pertunjukan seni kain Poleng tidak pernah alfa disertakan. Seperti oleh penari dalam tari-tarian tradisional Bali, pelakon dalam drama/ dramatari, dan beberapa tokoh dalam perwayangan.
Tidak sampai disitu, kain Poleng juga menarik minat wisatawan untuk ikut memakainya. Bahkan, dalam Sastra Lontar Purwadigama, Pecalang atau petugas keamanan desa adat di Bali diwajibkan mengenakan kain Poleng sebagai udeng atau penutup kepalanya.
Filosofi Kain Poleng
Seperti yang diungkapkan I Ketut Rupawan, seorang peneliti sekaligus guru dalam hasil penelitiannya, kain Poleng sebenarnya ada 3 jenis warna. Namun yang paling sering ditemui di Bali adalah kain Poleng berwarna hitam putih. Ketiganya memiliki makna dibaliknya, serta hubungan yang erat dengan filosofi ajaran Hindu.
Poleng Rwabhineda
Yang pertama disebut "Rwabhineda" yaitu kain Poleng berwarna hitam putih. Dua warna bertolak belakang ini mencerminkan adanya 2 sifat di alam ini yang berlawanan seperti baik-buruk, tinggi-rendah, gelap-terang, dan sebagainya.
Alasan mengapa di Bali semua Pecalang diharuskan memakai kain Poleng jenis Rwabhineda sebagai udengnya karena diharapkan ia selaku petugas keamanan mampu membedakan yang baik dan yang buruk, benar dan salah, aman dan kacau.
Poleng Sudhamala
Jenis yang ke dua dinamakan "Sudhamala" yakni kain Poleng berwarna hitam, abu-abu, putih. Adanya warna abu-abu dalam corak kain ini mewakili sifat pertengahan, perantara, dan penyeimbang antara sifat hitam dan putih.
Poleng Tridatu
Jenis kain Poleng yang ke tiga yakni "Tridatu" berwarna hitam, putih, dan merah. Filosofinya berkaitan dengan ajaran Triguna atau tiga sifat yang mempengaruhi manusia. Warna putih melambangkan sifat tenang dan bijaksana, warna merah melambangkan sifat dinamis dan berenergi, dan warna hitam melambangkan sifat terhambat dan berat.
Warna Tridatu juga melambang lahir, hidup, dan mati jika dipandang menurut mitologi Dewa Tri Murti. Dimana merah melambangkan penciptaan (Dewa Brahma), hitam melambangkan pemeliharaan (Dewa Wisnu), dan putih melambangkan peleburan (Dewa Siwa).
Namun ketiga jenis kain Poleng ini memiliki satu kesamaan fungsi yakni penggambaran hakikat kehidupan serta pesan untuk menjaga keseimbangan.
Label:
Bali,
Budaya Nusantara
Tangkap Ikan Tradisional - Lembata
Jumat, 14 Oktober 2016
Indonesia Wow Banget - Tour lembata sangatlah menarik bagi para traveler. Nama Lembata ditautkan sebagai nama sebuah pulau dan juga sebuah kabupaten. Nyatanya, Lembata memang sebuah kabupaten yang berwujud pulau. Luasnya tak besar, yakni sekira 1.266,39 kilometer persegi tetapi cukup besar untuk sebuah petualangan alam, budaya, serta wisata religi yang hampir sulit dipersandingkan.
Lembata merupakan bagian dari gugusan Pulau Solor. Letaknya tidak jauh dari ujung timur Pulau Flores dan merupakan bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Selain Lembata, di sekitar pulau ini terdapat beberapa pulau mahsyur lainnya seperti gugusan kepulauan Alor, Adonara, Solor, dan tentunya Flores yang eksotis. Nama lembata sendiri asalnya berasal dari sejarah masyarakatnya yang datang dari Pulau Lepanbatan. Sebutan penduduk yang semula Orang Lomblen berubah menjadi Orang Tour lembata
Lewoleba merupakan Ibu Kota Kabupaten Lembata yang sedang berbenah meningkatan fasilitas dan infrastrukturnya. Kota Lewoleba semakin berkembang sehingga infrastruktur kota menjadi penting. Masyarakat Pulau Lembata kini mulai majemuk, walau bahasa pergaulan bagi Lembata dan sekitarnya ialah Bahasa Lamalohot. Bahasa daerah lainnya yang juga dikenal di Lembata ialah Bahasa Kedang. Tentu saja Bahasa Indonesia sudah sangat dikenal di setiap pelosok pulau Tour lembata
Sumber: Wonderful Indonesia















